Diberdayakan oleh Blogger.

Kamis, 03 Januari 2019

BLACK BOX

Share & Comment



Kotak hitam atau black box adalah perangkat yang digunakan untuk merekam seluruh kegiatan di dalam pesawat yang datanya berupa rekaman suara. Di dalam setiap pesawat ada dua peranti kotak hitam: FDR (Flight Data Recorder) atau perekam data penerbangan dan CVR (Cockpit Voice Recorder) atau perekam percakapan pilot. FDR ini mencatat informasi 88 parameter penerbangan, mulai dari kompas, arah, ketinggian, hingga kecepatan pesawat di udara, dan sebagainya, yang bersifat teknis. Apa yang terjadi selama penerbangan dalam kurun 25 jam terakhir akan direkam oleh alat ini. Sedangkan CVR merupakan alat yang merekam seluruh pembicaraan yang dalam kokpit. CVR tidak hanya merekam percakapan pilot dan kopilot, namun juga beragam suara yang bisa merupakan petunjuk penting, seperti suara mesin, suara alarm, bahkan suara kursi yang digeser jika awak kabin bergerak. Namun, CVR hanya bisa merekam suara hingga durasi maksimal dua jam dari posisi terakhir pesawat. FDR dan CVR dipasang di bagian pesawat yang biasanya paling tahan menghadapi kecelakaan, yaitu bagian ekor. Baik FDR maupun CVR memiliki Emergency Local Transmitter (ELT) atau alat pemancar sinyal darurat. Apabila terendam di dalam laut, fungsi ELT digantikan dengan Underwater Locator Beacon atau pinger yang memancarkan sinyal ping.
Perekam data penerbangan mendapatkan informasi melalui alat perantara yang biasa disebut unit pengumpul atau flight data acquisition unit. Unit ini menerima semua data dari sensor yang ditempatkan di badan pesawat. Informasinya kemudian disimpan di keping-keping memori yang memiliki kapasitas simpan sangat besar. Perekam suara kokpit memiliki sistem kerja yang sama. Sebelum dipasang di jet komersial, kotak hitam berulang kali diuji untuk memastikan benda itu tidak mudah rusak atau hancur.
Baterai kotak hitam sebagian besar berusia 30 hari. Oleh karena fakta itu, tim SAR harus berpacu dengan waktu agar kotak hitam bisa ditemukan sebelum baterainya habis. Setelah ditemukan, kotak hitam akan dianalisis oleh tim penyelidik, dalam hal ini KNKT, dan tim dari pembuat kotak hitam. Proses analisa bisa memakan waktu berbulan-bulan, bahkan mungkin setahun. Analisa harus dilakukan seksama dan direkam menggunakan kamera video mengingat data dari kotak hitam itu sangat banyak.
Walaupun bernama black box, namun alat ini tidak berwarna hitam, melainkan oranye. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan pencarian kotak hitam ketika pesawat mengalami kecelakaan. Kotak hitam terbuat dari aluminium, berbobot 10 kilogram, dan memiliki panjang 49,7 sentimeter. Lantaran bobotnya, kotak hitam tidak bisa mengambang di air dan akan langsung tenggelam ke dasar lautan. Satu unit kotak hitam dibanderol dengan harga sekitar $50.000 atau Rp750 juta.




Tags:
 

Berita Populer

Bengawan Team UNS meraih posisi runner-up di Shell Eco-marathon Asia 2014. Selengkapnya...
Di Kompetisi Kincir Angin Indonesia 2013 Tim Bengawan meraih juara dua. Selengkapnya...

Berita Terbaru

Ikuti kami melalui email

Copyright © KMTM FT UNS | Designed by KOMINFO KMTM FT UNS