Diberdayakan oleh Blogger.

Minggu, 06 April 2014

Bahan Bakar Gas di Indonesia Belum Banyak Dimanfaatkan

Share & Comment
Indonesia kaya akan sumber Bahan Bakar Gas (BBG) namun belum dimanfaatkan secara optimal. Sementara itu, masyarakat kian dihadapkan pada persoalan ketersediaan BBM yang kian terbatas dari waktu ke waktu. Staf Ahli Menristek Bidang Energi dan Material Maju Agus R. Hotman menyatakan, bahwa pemerintah perlu segera merealisasikan program konversi BBM ke BBG pada kendaraan bermotor.

“Ada tiga hal yang bisa dilakukan untuk memanfaatkan BBG tersebut, yakni pemasanganconverter di mobil-mobil dinas, lembaga, kementerian dan BUMN. Kedua, pemasanganconverter kit di transportasi umum, dan pemasangan converter pada mobil pribadi secara sukarela,” ujarnya dalam Focus Grup Discussion (FGD), "Kajian Kesiapan Masyarakat Terhadap Konversi BBM ke BBG," Senin (25/6), di Yogyakarta. 

Beberapa infrastruktur yang seharusnya disediakan adalah converter kit, stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG), serta bengkel khusus converter kit. Tak hanya itu, pemerintah pun perlu memperkirakan selisih harga premium dan BBG yang idealnya terpaut 40-60 persen.

“Yang tidak kalah penting mewajibkan industri otomotif untuk memproduksi varian kendaraan berbahan bakar gas berikut layanan purna jualnya,” ungkap Agus.

Ditambahkan Agus, Asosiasi Perusahaan Compressed Natural Gas (CNG) Indonesia telah membangun lima stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) di Jakarta, satu SPBG di Palembang, dan dua SPBG di Surabaya. “Semuanya dilakukan oleh 44 perusahaan anggota asosiasi tanpa memperoleh insentif dari pemerintah,” tandasnya.

Anggota Asosiasi juga telah membangun empat stasiun induk di Jakarta dan 12 stasiun induk di Surabaya yang mampu melayani 250 armada tube trailer dengan alokasi gas lebih dari 30 mmscfd. “Sampai akhir tahun akan dibangun 60 bengkel,” katanya.

Peneliti Konverter Kit UGM Jayan Sentanuhadi menegaskan, persoalan implementasi konversi BBG di Indonesia saat ini masih menghadapi kendala yakni standarisasi yang belum memadai, SPBG yang masih sedikit dan tidak merata. Produksi converter kit dalam negeri belum ada dan perbedaan harga BBM dan CNG terlalu sempit.

“Selain itu, persepsi dan pengetahuan masyarakat tentang rencana pemerintah untuk konversi BBM ke BBG pada kendaraan masih sangat rendah, terutama masyarakat menengah ke bawah karena minimnya sosialisasi terhadap keunggulan dan keamanaan BBG,” kata Jayan.

Dari hasil survei yang dilakukan Peneliti Konverter Kit UGM lainnya, Deendarlianto, di Surabaya, Jakarta, dan Bandung, menunjukkan bahwa masyarakat masih belum siap terhdap rencana pemerintah tersebut. Masyarakat masih trauma terhadap keamaanan BBG karena kasus tabung meledak di beberapa lokasi di Indonesia.

“Pemerintah perlu menggandeng perguruan tinggi dan lembaga riset untuk melakukan sosialisasi pada semua level masyarakat,” kata Deendarlianto.
(Olivia Lewi Pramesti)


Tags:
 

Berita Populer

Bengawan Team UNS meraih posisi runner-up di Shell Eco-marathon Asia 2014. Selengkapnya...
Di Kompetisi Kincir Angin Indonesia 2013 Tim Bengawan meraih juara dua. Selengkapnya...

Berita Terbaru

Ikuti kami melalui email

Copyright © KMTM FT UNS | Designed by KOMINFO KMTM FT UNS